Jumat, 03 Juli 2020

berdalil dengan as sunah

/ Berdalil dengan As-Sunnah /

Oleh: Yahya Abdurrahman

#Fikih
#MuslimahNewsID -- As-Sunnah adalah ucapan, perbuatan atau pengakuan Rasul ﷺ As-Sunnah itu wajib diikuti seperti halnya Al-Qur'an. Hanya saja, harus terbukti bahwa Rasul ﷺ memang mengucapkan, melakukan atau mengakui sesuatu yang layak dikategorikan sebagai as-Sunnah. Jika sudah terbukti maka absah ber-istidlâl dengan as-Sunnah atas hukum syariah maupun akidah. Dengan itu pula as-Sunnah itu menjadi hujjah bahwa yang ditetapkan dengan as-Sunnah itu merupakan hukum syariah atau bagian dari akidah.

Hanya saja, penetapan as-Sunnah (tsubût as-Sunnah) itu kadang merupakan tsubût (penetapan) yang qath’i, yakni hadis mutawatir. Adakalanya, tsubût-nya merupakan tsubût yang zhanni, yakni khabar ahad. Khabar/hadis ahad tidak memenuhi syarat-syarat khabar mutawatir. Ini mencakup khabar masyhûr, ‘azîz dan gharîb. Khabar masyhûr atau mustafîdh tetap merupakan khabar ahad. Khabar masyhûr itu dalam istidlâl tidak naik dari derajat khabar ahad dan tidak mencapai derajat mutawatir. Selama dalam riwayat hadis itu ada ahad pada tingkat manapun, baik sahabat, tâbi’în maupun tâbi’ at-tâbi’în, tetap merupakan ahad.

Jadi as-Sunnah dari sisi tsubût-nya ada yang qath’i, yaitu khabar mutawatir, dan ada yang zhanni, yaitu khabar ahad.

===

Adapun dari sisi dilâlah (makna)-nya, as-Sunnah atau nas secara umum, juga terbagi dua. Ada yang maknanya qath’i, yaitu yang hanya memiliki satu makna atau satu pemahaman saja. Nas yang maknanya qath’i ini tidak memungkinkan adanya ikhtilaf pendapat di dalamnya. Ada juga yang maknanya bersifat zhanni, yaitu yang mengandung lebih dari satu makna atau lebih dari satu pemahaman. Di sini dimungkinkan adanya ikhtilaf pendapat.

Oleh karena itu, nas-nas syariah, termasuk as-Sunnah, bisa dibagi ke dalam empat klasifikasi. Imam ‘Alauddin Abdul Aziz Ahmad al-Bukhari al-Hanafi (w. 730 H) di dalam Kasyfu al-Asrâr ‘an Ushûl Fakhri al-Islâm al-Bazdawî (I/84) dan Imam Muhammad Amin Ibnu Abidin (w. 1252 H) di dalam Raddu al-Mukhtâr Syarh ad-Durru al-Mukhtâr (I/64) menyatakan bahwa dalil-dalil sam’iyyah itu ada empat klasifikasi. 

Pertama: Qath’iy ats-tsubût qath’iy ad-dilâlah. Contoh: Nas-nas Al-Qur'an yang muhkamât dan as-Sunnah mutawatirah yang mafhûm-nya qath’i.

Kedua: Qath’iy ats-tsubût zhanniy ad-dilâlah. Contoh: Ayat-ayat yang bisa ditakwilkan.

Ketiga: Zhanniy ast-stubût qath’iy ad-dilâlah. Contoh: Khabar ahad yang mafhûm-nya qath’i.

Keempat: Zhanniy ats-tsubût zhanniy ad-dilâlah. Contoh: Khabar ahad yang mafhûm-nya zhanni.

Alhasil, nas yang bersifat qath’i hanya kategori pertama, yakni nas yang qath’iy atstsubût qath’iy ad-dilâlah. Itulah ayat-ayat Al-Qur'an atau hadis mutawatir yang maknanya atau dilâlah-nya qath’i. Adapun tiga kategori lainnya—baik yang qath’iy ats-tsubût zhanniy ad-dilâlah, zhanniy ats-tsubût qath’iy ad-dilâlah maupun zhanniy ats-tsubût zhanniy ad-dilâlah—merupakan nas yang bersifat zhanni.

===

Iman kepada Rasul ﷺ mewajibkan setiap Muslim untuk menaati dan mengikuti beliau, sekaligus ber-istidlâl dengan as-Sunnah atas Islam baik dalam perkara akidah maupun hukum syariah. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧

Apa saja yang dibawa oleh Rasul kepada kalian, terimalah. Apa saja yang beliau larang atas kalian, tinggalkanlah. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sungguh Allah amat keras hukuman-Nya (QS al-Hasyr [59]: 7).

Hanya saja, ber-istidlâl dengan as-Sunnah itu berbeda-beda kondisinya, bergantung pada perkara yang menjadi obyek istidlâl itu. Jika obyek istidlâl itu cukup dengan ghalabatu azh-zhann (dugaan kuat), maka hadis yang berdasarkan ghalabatu azh-zhann dinyatakan oleh Rasul ﷺ bisa dijadikan dalil. Dalam hal ini, ber-istidlâl dengan hadis yang diyakini/dipastikan bahwa hadis itu dinyatakan oleh Rasul ﷺ tentu lebih utama lagi.

Adapun jika terkait perkara yang di dalamnya wajib ada kepastian dan keyakinan, maka wajib pula ber-istidlâl dengan hadis yang diyakini/dipastikan bahwa hadis itu dinyatakan oleh Rasul ﷺ. Dalam hal ini tidak cukup dan tidak boleh ber-istidlâl dengan hadis yang hanya didasarkan pada ghalabatu azh-zhann bahwa hadis itu dinyatakan oleh Rasul ﷺ. Alasannya, zhann (dugaan) tidak layak menjadi dalil untuk keyakinan (al-yaqîn). Karena itu perkara yang di dalamnya menuntut adanya keyakinan dan kepastian (al-jazm) hanya bisa didasarkan pada al-yaqîn (meyakinkan) dan al-jazm (pasti).

Akidah atau iman adalah perkara yang di dalamnya menuntut adanya keyakinan (al-yaqîn) dan kepastian (al-jazm). Karena itu ber-istidlâl dengan as-Sunnah dalam perkara akidah atau iman ini hanya boleh dengan khabar mutawatir, tidak boleh dengan khabar ahad. Masalah ini akan dibahas lebih rinci dalam artikel berikutnya.

Adapun hukum syariah cukup didasarkan pada dalil yang berdasarkan ghalabatu azh-zhann merupakan hukum Allah subhanahu wa ta'ala yang wajib diikuti. Karena itu dalil atas hukum syariah boleh bersifat zhanni, baik dari sisi tsubût ataupun dilâlah-nya, atau dari sisi keduanya sekaligus. Dalam hal ini tentu dalil yang bersifat qath’i lebih utama digunakan.

===

Khabar ahad, jika statusnya sahih atau hasan, bisa dijadikan sebagai hujjah atau dalil atas hukum syariah yang wajib diamalkan baik dalam perkara ibadah, muamalat ataupun ‘uqûbat. Ber-istidlâl dengan khabar ahad dalam masalah hukum syariah adalah kebenaran (al-haqq) dan merupakan perkara yang sudah terbukti. 

Hal itu telah disepakati oleh seluruh sahabat ridhwanulLâh ‘alayhim, yakni telah menjadi bagian dari Ijmak Sahabat. Dalilnya, syariah mengakui kesaksian dalam pembuktian dakwaan, dan itu merupakan khabar ahad. 

Telah terbukti berdasarkan nas Al-Qur'an bahwa Al-Qur'an telah mengakui: kesaksiaan dua orang saksi laki-laki atau seorang saksi laki-laki dan seorang perempuan dalam masalah harta (QS al-Baqarah [2]: 282); kesaksian empat orang saksi laki-laki dalam perkara zina (QS an-Nisa’ [4]: 15); dan kesaksian dua orang saksi laki-laki dalam masalah hudûd dan qishâsh. Rasul ﷺ pun telah memutuskan hukum berdasarkan kesaksian seorang saksi beserta sumpah pemilik hak. Beliau telah menerima kesaksian seorang perempuan dalam masalah persusuan (ar-radhâ’). Semua ini merupakan khabar ahad. Para sahabat seluruhnya berjalan di atas yang demikian, dan tidak diriwayatkan seorang pun yang menyalahi.

===

Al-Qadhâ’ adalah pengharusan apa yang diputuskan dengan jalan tarjîh (menguatkan) sisi kejujuran atas sisi kebohongan selama syubhat yang membuat khabar itu dicurigai bohong telah hilang dan tidak terbukti. Pengharusan ini tidak lain adalah mengamalkan khabar ahad.

Karena itu, begitu pula mengamalkan khabar ahad yang diriwayatkan dari Rasul ﷺ dengan tarjîh (menguatkan) sisi kejujuran. Tentu selama perawi adalah seorang yang adil, tsiqah dan dhâbith; selama ia telah bertemu dengan orang yang meriwayatkan; juga selama tidak ada syubhat yang membuat kecurigaan khabar itu bohong dan syubhat itu tidak terbukti ada.

Jadi penerimaan khabar ahad dan ber-istidlâl dengan khabar ahad atas hukum syariah adalah semisal dengan penerimaan kesaksian dan hukum/keputusan berdasar kesaksian itu atas perkara yang diputuskan. Atas dasar itu, khabar ahad menjadi hujjah atas hukum syariah berdasarkan dalil Al-Qur'an dan as-Sunnah dan apa yang ditunjukkan oleh as-Sunnah. Apalagi Rasul ﷺ telah bersabda:

نَضَّرَ اللَّهُ عَبْدًا سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا ثُمَّ بَلَّغَهَا عَنِّي فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرِ فَقِيهٍ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ

Allah telah menjadikan elok seorang hamba yang mendengar ucapanku, lalu dia pahami dan kemudian dia sampaikan. Betapa banyak pembawa fikih (pemahaman) bukanlah orang fakih dan betapa banyak pembawa fikih (pemahaman) yang membawa fikih (pemahaman) kepada orang yang lebih fakih/paham dari dirinya (HR Ibnu Majah, Ahmad dan asy-Syafii).

Kata ‘abd[an] itu mencakup seseorang atau banyak orang. Jadi Rasul ﷺ memuji seseorang dan beberapa orang (ahad) dalam menukilkan hadis beliau. Rasul ﷺ pun telah memerintahkan untuk menghapal, mengamal-kan dan menyampaikan atau menukilkan ucapan beliau. Karena itu fardhu bagi orang yang mendengar ucapan beliau, baik seorang atau banyak orang, untuk menunaikannya. Penunaian dan penukilan kepada orang lain itu tidak ada pengaruh kecuali jika ucapannya diterima. Jadi seruan Rasul ﷺ untuk menukilkan ucapan beliau itu merupakan seruan untuk menerima ucapan beliau tersebut. Tentu selama orang yang menukilkan itu dibenarkan (dipercayai) bahwa itu merupakan ucapan Rasul ﷺ. Artinya, selama orang yang menukilkan itu tsiqah, terpercaya, bertakwa, dhâbith, mengetahui apa yang dibawa dan diserukan. Dengan begitu hilang kecurigaan bohong atas dirinya dan dikuatkan pada dirinya sisi kejujuran.

Ini menunjukkan bahwa khabar ahad merupakan hujjah berdasarkan as-Sunnah secara sharih dan berdasarkan apa yang ditunjukkan oleh as-Sunnah.

Dengan demikian, berdasarkan dalil Al-Qur'an, as-Sunnah dan Ijmak Sahabat, absah ber-istidlâl dengan khabar ahad atas hukum syariah. Apalagi ber-istidlâl dengan khabar mutawatir. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. 

===
Sumber:
https://al-waie.id/takrifat/berdalil-dengan-as-sunnah/

—————————————
Silakan share dan follow
Web: http://muslimahnews.com
FB, IG, Telegram
@MuslimahNewsID
Twitter:
http://twitter.com/m_newsid
Grup WA:
http://bit.ly/GrupMuslimahNewsID
—————————————
Berkarya untuk Umat
—————————————

Kamis, 02 Juli 2020

qurban

 Hukum Fiqih Seputar Qurban

Pengantar: Sebentar lagi kaum Muslim akan merayakan Hari Raya Idul Adha 1439 H. Ibadah qurban menjadi rangkaian perayaan Idul Adha tersebut. Meski sering dilakukan tiap tahun, ada baiknya umat Islam mengetahui fiqih seputar qurban ini. Bagaimana rinciannya? Fokus kali ini menyajikannya.

Membayar hutang harus didahulukan ketimbang berqurban, meski orang yang berutang tersebut tidak ditagih untuk membayar utangnya.

“Qurban” disebut “Udhhiyyah”. Dalam fiqih, “Udhhiyyah” adalah hewan ternak yang disembelih pada Hari Nahr, dengan niat untuk mengerjakan kesunahan.

“Udhhiyyah” hukumnya sunah, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Jika kalian melihat hilal Dzulhijjah, dan salah seorang di antara kalian ingin menyembelih, maka hendaknya dia tidak memotong rambut dan kukunya.” (HR Muslim)

Sabda Nabi SAW, yang menyatakan, “Wa Arada Ahadukum an Yudhahhiya” [salah seorang di antara kalian ingin menyembelih], mempunyai konotasi sunah, bukan wajib.

Pekurban
Qurban tidak ditetapkan, kecuali terhadap orang yang memenuhi syarat:
1)    Islam: karena qurban merupakan ibadah, dan ibadah tidak diberlakukan, kecuali terhadap kaum Muslim. Sedangkan non-Muslim tidak.
2)    Mukim: qurban hanya berlaku untuk orang mukim, bukan musafir.
3)    Kaya: qurban hanya berlaku bagi orang yang mempunyai nafkah untuk Hari Raya, dan dana untuk qurban, dan telah menyelesaikan kebutuhan dasarnya, seperti sandang, papan dan pangan. Bisa ditambahkan, kesehatan, pendidikan dan keamanan.
4)    Tidak harus baligh dan berakal: qurban boleh dilakukan oleh wali anak-anak kecil dan orang gila, karena qurban merupakan nafkah yang diberikan secara makruf, yang disyariatkan untuk harta.
5)    Niat berkurban: Karena niat bisa membedakan antara sembelihan yang merupakan tradisi, dengan qurban yang merupakan ibadah.
6)    Qurban orang yang berhutang: membayar hutang harus didahulukan ketimbang berqurban, meski orang yang berutang tersebut tidak ditagih untuk membayar utangnya.
7)    Qurban untuk orang yang sudah meninggal: Qurban boleh diperuntukkan bagi orang yang sudah meninggal, dan insya Allah, bermanfaat bagi mayit.
8)    Menyembelih dengan tangan sendiri: bagi orang yang berkurban lebih baik menyembelih qurban dengan tangannya sendiri, atau menyaksikan sembelihannya. Meski boleh juga digantikan oleh orang lain.

Hewan Qurban

Disyaratkan hewan yang dikurbankan harus:
1)    Hewan ternak: Hewan ternak [al-an’am] tersebut adalah unta [al-ibil], sapi [al-baqar], kerbau [al-jamus], kambing [al-ghanam] dan biri-biri [al-ma’iz].
2)    Umur: Disyaratkan untuk unta, sapi dan kerbau harus tsaniyya. Untuk unta harus 5 tahun. Untuk sapi dan kerbau harus 2 tahun. Kambing [biri-biri/Ma’iz] harus 1 tahun. Kambing domba [Dha’n] disyaratkan harus jad’u. Usia jad’u adalah 6 bulan.
3)    Jumlah Qurban: 1 domba atau biri-biri boleh untuk 1 orang, atau 1 keluarga, misalnya seorang pria dan anak-anaknya. Sedangkan 1 unta atau sapi untuk 7 orang.
4)    Selamat dari cacat yang berat: Qurban adalah persembahan yang dipersembahkan kepada Allah SWT, karena itu harus layak dipersembahkan. Karena itu, qurban ini syaratnya harus selamat dari cacat yang berat. Cacat berat itu antara lain, buta, pincang, telinga, tangan dan kaki terpotong, sakit dan kurus sekali. Ini berdasarkan riwayat al-Barra’ bin ‘Azib, berkata, Rasulullah SAW, berdiri di antara kami, lalu bersabda: “Empat yang tidak boleh dijadikan qurban: cacat yang berat, yang jelas sekali cacatnya. Sakit, yang jelas sekali sakitnya. Pincang yang jelas sekali pincangnya. Patah yang tak te..” (HR Abu Dawud, Ibn Majah, an-Nasa’i)

Qurban juga harus dipilih dari hewan yang paling disukai. Karena apa yang paling disukai oleh seseorang, jika digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka itu lebih baik ketimbang yang lain. Meski kedunya nilainya sama.

Siapa saja yang membeli hewan qurban yang baik dan layak, lalu terbukti mempunyai cacat, setelah dibeli, maka boleh diganti dengan yang lain, yang baik, juga boleh tetap dengan menyembelih yang cacat.

Penyembelihan

1)    Waktu Penyembelihan: Penyembelihan hewan qurban dimulai setelah shalat Idul Adhha, dari tanggal 10 Dzulhijjah, hingga matahari tenggelam, pada tanggal 13 Dzulhijjah.
2)    Tempat Penyembelihan: Apa saja yang disembelih pada hari-hari Nahr, di tanah halal, selain tanah haram Makkah, disebut qurban [udhhiyyah]. Sedangkan apa yang disembelih pada hari-hari Nahr, di tanah haram Makkah, disebut Hadyu.
3)    Penggantian Qurban: Jika membeli kambing, dan diniatkan sebagai qurban, maka hewan qurban boleh diganti yang lain, jika:
a.    hewan qurban tersebut cacat, maka boleh diganti dengan yang lain.
b.    Jika ingin mengganti, diganti dengan yang lain, yang lebih baik, tanpa cacat.
c.    Tidak boleh diganti dengan dirham [uang]. Jika itu dilakukan, maka statusnya sedekah biasa, bukan qurban. Menyembelih qurban lebih baik ketimbang menyedekahkan harga [dana]-nya. Karena, mengalirkan darah di hari Nahr, adalah ibadah.
4)    Memanfaatkan Daging Qurban: Disunahkan untuk daging qurban, sepertiga untuk disedekahkan, sepertiga untuk dimakan, dan sepertiga untuk dihadiahkan. Daging qurban yang dimakan boleh disimpan pada saat-saat lapang, tetapi pada saat sulit, terjadi kemiskinan dan putus asa, makruh disimpan.

Tata Cara Menyembelih Qurban

Menyembelih hewan adalah hal yang sudah biasa. Namun demikian tidak ada salahnya jika pemahaman tentang penyembelihan ini disegarkan kembali, apalagi di saat beban penyembelihan biasanya cukup banyak di Hari Raya Idul Adha.

1)    Batasan Menyembelih: Menyembelih [dzabh] adalah memotong tenggorokan, dua urat leher [wadijain], yaitu dua urat yang mengalirkan darah ke otak.
2)    Penyembelih: Orang yang menyembelih hewan sembelihan ini disyaratkan harus: (a) Berakal; (b) Mumayyiz; (3) Muslim; (4) Ahli Kitab [Yahudi/Nasrani]. Karena itu, sembelihan orang gila tidak halal. Begitu juga sembelihan anak kecil, yang belum Mumayyiz. Juga sembelihan orang Majusi atau Musyrik yang lainnya. Karena Rasulullah SAW telah meneken perjanjian dengan Majusi Hajar: “Mengambil jizyah dari mereka, perempuan mereka tidak halal dinikahi, dan sembelihan mereka tidak halal dimakan.” (HR Abu Yusuf)
3)    Alat Sembelihan: Alat yang digunakan untuk menyembelih adalah alat yang bisa memotong. Makruh menyembelih dengan menggunakan gigi, kuku dan alat-alat sejenis lainnya, padahal ada alat yang bisa digunakan untuk memotong. Sebagaimana sabda Nabi SAW:“Apa yang  bisa mengalirkan darah, dan ketika disembeli disebut nama Allah, maka makanlah. Tetapi, bukan gigi dan kuku.” (HR Bukhari). LTS

Sumber: Tabloid Mediaumat Edisi 224


Rabu, 01 Juli 2020

hadist uu minerba

/ UU MINERBA dalam Perspektif Hadis Nabi Tentang Barang Tambang /

Oleh: Yuana Ryan Tresna

#Opini
#MuslimahNewsID -- Dalam sebuah hadis, disebutkan sebuah riwayat,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ (سنن ابن ماجه ج2 ص 1339)

قال العلامة السندي: والرجل التافه الرذيل والحقير والرويبضة تصغير رابضة وهو العاجز الذي ربض عن معالي الأمور وقعد عن طلبه  (شرح سنن ابن ماجه – (ج 1 / ص 292)

Laki-laki yang “tafih” adalah orang yang hina, dan tidak bermartabat. Ruwaibidhah merupakan isim tasghir dari “rabidhah” yaitu orang yang lemah yang malas untuk mendapatkan hal-hal yang terbaik, serta putus asa untuk mendapatkannya. (Syarh Sunan Ibn Majah, 1/292)

===

Membaca UU Minerba No. 4 Tahun 2009, poin-poin kritis UU Minerba adalah:

Mengeliminasi peran negara. Padahal dalam pasal 33 UUD 1945 ayat 3 menyebutkan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun kenyataannya UU Minerba berpotensi hanya menguntungkan kemakmuran investor;

Pada Pasal 169A dan 169B pemegang Kontrak Karya (KK) dan pemegang Perjanjian Karya Pertambangan Batu Bara (PKP2B) akan memperoleh kemudahan untuk mendapatkan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dan perpanjangan IUPK tanpa melalui proses lelang yang berpotensi seenaknya;

Pasal 47 (a) menyebut jangka waktu kegiatan operasi produksi tambang mineral logam paling lama adalah 20 tahun dan dijamin memperoleh perpanjangan dua kali masing-masing 10 tahun setelah memenuhi persyaratan sesuai peraturan perundang-undangan. Sehingga perusahaan di PKP2B bisa “menguasai” tambang batu bara sampai dua dekade;

Terdapat definisi Wilayah Hukum Pertambangan yang akan mendorong eksploitasi tambang besar-besaran, bukan hanya di kawasan daratan tetap juga lautan yang bertentangan UU Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;

Adanya perubahan dalam Pasal 100 yang membuat reklamasi dan pascatambang dimungkinkan untuk tidak dikembalikan sebagaimana zona awal;

Pasal 102 dalam revisi UU Minerba juga menghilangkan kewajiban pengusaha batu bara untuk melakukan hilirisasi serta memberikan segala insentif fiskal dan non fiskal bagi pertambangan dan industri batubara;

Pasal 93 memungkinkan IUP & IUPK dipindahtangankan atas izin menteri. Kapasitas pemerintah pusat dalam membina dan mengawasi pertambangan diragukan masyarakat.

Sebagai tambahan, UU Minerba yang disahkan sangat investor friendly, dengan memberikan berbagai kemudahan memperoleh IUPK dan jaminan perpanjangan IUPK. UU Minerba juga tidak mendorong dan menjaga kelestarian lingkungan hidup dan kelangsungan ketersediaan Minerba dalam jangka panjang. UU Minerba juga tidak mendorong pengolahan minerba di Smelter dalam negeri untuk meningkatkan nilai bagi negeri. Paradigmanya masih tetap gali-jual. Akibatnya, investor akan meraup keuntungan besar, sedangkan kemakmuran rakyat diabaikan.

(https://mediaindonesia.com/read/detail/312675-baru-disahkan-uu-minerba-yang-baru-langsung-panen-kritik)

===

Hadis tentang Tambang Garam

عَنْ أَبْيَضَ بْنِ حَمَّالٍ أَنَّهُ وَفَدَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَاسْتَقْطَعَهُ الْمِلْحَ فَقَطَعَ لَهُ فَلَمَّا أَنْ وَلَّى قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْمَجْلِسِ أَتَدْرِى مَا قَطَعْتَ لَهُ إِنَّمَا قَطَعْتَ لَهُ الْمَاءَ الْعِدَّ. قَالَ فَانْتَزَعَهُ مِنْهُ.

“Dari Abyad bin Hammal, ia mendatangi Rasulullah ﷺ, dan meminta beliau ﷺ agar memberikan tambang garam kepadanya. Nabi ﷺ pun memberikan tambang itu kepadanya. Ketika, Abyad bin Hamal ra telah pergi, ada seorang laki-laki yang ada di majelis itu berkata, “Tahukan Anda, apa yang telah Anda berikan kepadanya? Sesungguhnya, Anda telah memberikan kepadanya sesuatu yang seperti air mengalir (al-maa’ al-‘idd)”. Ibnu al-Mutawakkil berkata, “Lalu Rasulullah ﷺ mencabut kembali pemberian tambang garam itu darinya (Abyad bin Hammal)”. (HR. Abu Dawud dan al-Timidzi)

Posisinya dalam kitab induk hadis, diantaranya:

أخرجه ابن حبان في “صحيحه” والنسائي في “الكبرى” وأبو داود في “سننه” والترمذي في “جامعه” والدارمي في “مسنده” وابن ماجه في “سننه” والبيهقي في “سننه الكبير” والدارقطني في “سننه” وابن أبي شيبة في “مصنفه” والطبراني في “الكبير”

Syawahid:

وَفِي الْبَابِ عَنْ وَائِلٍ وَأَسْمَاءَ اِبْنَةِ أَبِي بَكْرٍ

Kedudukan:

Hadis ini maqbul dengan banyaknya jalan (katsrah al-thuruq) karena memenuhi persyaratan minimal sebagai hadis hasan (dengan beberapa catatan kritik sanad),

حَدِيثُ أَبْيَضَ بْنِ حَمَّالٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. تحفة الأحوذي (4/ 9)

Kritik Sanad (Naqd al-Sanad):

Sanad hadis ini muttashil (bersambung);

Secara umum rawinya maqbul. Secara rinci, kriteria rawi beragam mulai tsiqah tsabat, tsiqah, shaduq, wahm, hingga majhul hal. Kelemahan pada beberapa rawi dikuatkan dengan adanya jalur lain;

Madar sanad hadis ini pada Syumair dan Sumay bin Qais.

Kritik Matan (Naqd al-Matn):

Matan hadis ini mengandung hukum baru yang tidak disebutkan dalam al-Quran;

Matan hadis ini selaras dengan Hadis shahih lainnya;

Lafaznya menunjukkan keagungan pemilik kalamnya yakni Sayyiduna Muhammad ﷺ;

Berdasarkan data takhrijnya, matan-matan hadis tersebut tidak saling bertentangan (bukan hadis mukhtalif).

===

Penjelasan (Syarah):

تحفة الأحوذي (4/ 9)

( وَفَدَ ) أَيْ قَدِمَ. ( اِسْتَقْطَعَهُ ) أَيْ سَأَلَهُ أَنْ يُقْطِعَ إِيَّاهُ. ( الْمِلْحَ ) أَيْ مَعْدِنَ الْمِلْحِ. ( فَقَطَعَ لَهُ ) لِظَنِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يُخْرِجَ مِنْهُ الْمِلْحَ بِعَمَلٍ وَكَدٍّ. ( فَلَمَّا أَنْ وَلَّى ) أَيْ أَدْبَرَ. ( قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْمَجْلِسِ ) هُوَ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ عَلَى مَا ذَكَرَهُ الطِّيبِيُّ ، وَقِيلَ إِنَّهُ الْعَبَّاسُ بْنُ مِرْدَاسٍ.

( الْمَاءَ الْعِدَّ ) بِكَسْرِ الْعَيْنِ وَتَشْدِيدِ الدَّالِ الْمُهْمَلَةِ ، أَيْ الدَّائِمُ الَّذِي لَا يَنْقَطِعُ وَالْعِدُّ الْمُهَيَّأُ.

عون المعبود (7/ 48)

( الْمَاء الْعِدّ ): بِكَسْرِ الْعَيْن وَتَشْدِيد الدَّال الْمُهْمَلَتَيْنِ أَيْ الدَّائِم الَّذِي لَا يَنْقَطِع . قَالَ فِي الْقَامُوس : الْمَاء الَّذِي لَهُ مَادَّة لَا تَنْقَطِع كَمَاءِ الْعَيْن . وَالْمَقْصُود أَنَّ الْمِلْح الَّذِي قُطِعَتْ لَهُ هُوَ كَالْمَاءِ الْعِدّ فِي حُصُوله مِنْ غَيْر عَمَل وَكَدّ.

( فَانْتَزَعَ ): أَيْ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ الْمِلْح

( مِنْهُ ): أَيْ مِنْ أَبْيَض .

قَالَ الْقَارِي : وَمِنْ ذَلِكَ عُلِمَ أَنَّ إِقْطَاع الْمَعَادِن إِنَّمَا يَجُوز إِذَا كَانَتْ بَاطِنَة لَا يُنَال مِنْهَا شَيْء إِلَّا بِتَعَبٍ وَمُؤْنَة كَالْمِلْحِ وَالنِّفْط وَالْفَيْرُوزَج وَالْكِبْرِيت وَنَحْوهَا وَمَا كَانَتْ ظَاهِرَة يَحْصُل الْمَقْصُود مِنْهَا مِنْ غَيْر كَدّ وَصَنْعَة لَا يَجُوز إِقْطَاعهَا ، بَلْ النَّاس فِيهَا شُرَكَاء كَالْكَلَأِ وَمِيَاه الْأَوْدِيَة ، وَأَنَّ الْحَاكِم إِذَا حَكَمَ ثُمَّ ظَهَرَ أَنَّ الْحَقّ فِي خِلَافه يُنْقَض حُكْمه وَيُرْجَع عَنْهُ اِنْتَهَى .

Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan:

Hadis ini adalah dalil bahwa barang tambang yang depositnya melimpah adalah milik umum. Dan tidak boleh dimiliki oleh individu; (Syekh Abdul Qadim Zallum, al-Amwal fi Daulah al-Khilafah, hlm. 54-56):

Karena dalam hadis tersebut beliau ﷺ yang menarik kembali tambang garam yang beliau berikan pada Abyadh bin Hammal ra setelah beliau mengetahui bahwa tambang garam tersebut depositnya melimpah, maka tambang garam tersebut tidak boleh dimiliki oleh individu , dan merupakan milik kaum muslimin;

Ini berlaku bukan hanya untuk garam saja –seperti dalam hadis diatas- tapi berlaku pula untuk seluruh barang tambang. Mengapa? Karena larangan tersebut berdasarkan illat yang disebutkan dengan jelas dalam hadis tersebut , yakni “layaknya air yang mengalir”, maka semua barang tambang jumlahnya “layaknya air yang mengalir” –depositnya melimpah- tidak boleh dimiliki oleh individu (privatisasi).

Penjelasan para ulama terkait dengan topik ini diantaranya adalah sebagai berikut:

قال الامام ابن قدامة المقدسي: وَأَمَّا الْمَعَادِنُ الْجَارِيَةُ ، كَالْقَارِ ، وَالنِّفْطِ ، وَالْمَاءِ ، فَهَلْ يَمْلِكُهَا مَنْ ظَهَرَتْ فِي مِلْكِهِ ؟ فِيهِ رِوَايَتَانِ أَظْهَرُهُمَا ، لَا يَمْلِكُهَا…. (المغني – (ج 12 / ص 131)

Imam Ibn Qudamah berkata: adapun barang tambang yang melimpah seperti garam, minyak bumi, air, apakah boleh orang menampakkan kepemilikannya? Jawabannya ada dua riwayat dan yang lebih kuat adalah tidak boleh memilikinya. (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 12/131)

وقد ذهب المالكية إلى أن المعادن سواء كانت جارية أو غير جارية لا تملك ملكية خاصة حتى وإن كانت في أرض مملوكة ملكية خاصة…. (امام ابن رشد المالكي, المقدمات الممهدات 2 / 224 – 225)

“Dan kalangan mazhab Maliki berpendapat bahwa barang tambang baik melimpah maupun tidak, tidak boleh dimiliki dengan pemilikan yang sifatnya khusus (privat), meski barang tambang tersebut terdapat di dalam tanah yang kepemilikannya bersifat privat (khusus). (Ibnu Rusyd, al-Muqaddamat al-Mumahadat, 2/221-225)

Berkaitan dengan hal itu, al-’Allamah Syaikh ‘Abd al-Qadim al-Zallum, Al-Amwal fi Daulah al-Khilafah, hlm. 54, menegaskan:

أما المعادن الكثيرة، غير محدودة المقدار، فإنها تكون مملوكة ملكية عامة لجميع المسلمين، ولا يجوز أن يختص بها فرد، أو أفراد. كما لا يجوز إعطاء امتياز استخراجها لأفراد، أو لشركات، بل يجب أن تبقى ملكية عامة لجميع المسلمين، مشتركة بينهم وأن تقوم الدولة باستخراجها وتنقيتها، وصهرها، وبيعها نيابة عنهم، ووضع ثمنها في بيت مال المسلمين. ولا فرق في هذه المعادن بين أن تكون ظاهرة، يتوصل إليها من غير مشقة، ولا مؤونة كبيرة، كالملح والكح، أو أن تكون في باطن الأرض، وأعماقها، ولا يتوصل إلى استخراجها إلا بمشقة وعمل، ومؤونة كبيرة، كالذهب، والفضة، والحديد، والنُّحَاسِ، والرَّصَاصِ، والقصدير، والكروم، واليورانيوم، والفوسفات، وغيرها من المعادن، وسواء أكانت جامدة كالذهب والحديد أم سائلة كالنفط، أم غازية كالغاز الطبيعي.

===

Jadi konsep kepemilikan dan pengelolaan tambang ini terkait dengan konsep kepemilikan. Adapun kepemilikan dalam Islam dibagi menjadi tiga, yaitu:

Kepemilikan Individu; Kepemilikan umum, mencakup fasilitas publik, barang tambang yang depositnya melimpah, dan barang yang secara pembentukan mustahil dikuasai individu;

Kepemilikan negara. Di mana tambang yang depositnya melimpah termasuk kepemilikan umum.

===

Kesimpulan

Barang tambang dengan deposit melimpah, seperti migas, nikel, tembaga, batu bara, dan lain-lain termasuk kepemilikan umum (milkiyyah al-’amah). Syariat melarang individu menguasai dan mengelola barang tambang seperti tambang garam, migas, nikel, dan barang-barang tambang lain yang depositnya melimpah.

===
Sumber: https://www.facebook.com/MuslimahNewsID/photos/a.820025648175252/1578924212285388/?type=3/

—————————————
Silakan share dan follow
Web: http://muslimahnews.com

FB, IG, Telegram
@MuslimahNewsID

Twitter:
http://twitter.com/m_newsid

Grup WA:
http://bit.ly/GrupMuslimahNewsID

—————————————
Berkarya untuk Umat
—————————————

Selasa, 30 Juni 2020

hukum membunuh nyamuk dengan raket listrik

HUKUM MEMBUNUH NYAMUK DENGAN RAKET LISTRIK

Oleh: Ust Shidiq Al-Jawi

SOAL :

Bagaimanakah hukum Shinyoku ? Shinyoku adalah merek suatu alat pembunuh nyamuk dengan aliran listrik (setrum). Alat ini bentuknya sepeti raket bukutangkis, tapi senarnya berupa kawat yang dialiri aliran listrik dari baterai. Jika nyamuk melintasi senar tersebut, ia akan kesetrum dan terbakar. (Multazim, Yogya)

JAWAB :           

Hukum menggunakan alat tersebut adalah haram, sebab syariat Islam mengharamkan penggunaan api untuk membunuh atau menyiksa binatang. Termasuk di dalam kategori api adalah segala sarana yang mempunyai khasiat membakar seperti api, misalnya listrik.  Dalilnya adalah hadits-hadits yang mengharamkan kita membakar binatang dengan api (al-harq bi al-nar). Di antaranya hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud RA, bahwa beberapa sahabat dan Nabi SAW suatu saat dalam rombongan perjalanan. Kata Ibnu Mas’ud, Nabi SAW melihat ada sarang semut yang kami bakar. Lalu Nabi SAW bertanya,”Siapa yang membakar sarang ini?” Kami menjawab,”Kami.” Nabi SAW lalu berkata,”Sesungguhnya siapa pun tidak pantas menyiksa dengan api, kecuali tuhannya api itu sendiri.” (HR. Abu Dawud, dengan isnad hasan. Lihat Imam Nawawi, Riyadhus Shahlihin, Terjemahan Muslich Shabir, Jilid II, hal. 467, Semarang : CV Toha Putra, 1981).

Syaikh Abdurrahman Al-Maliki dalam kitabnya Nizham Al-‘Uqubat  hal. 157 (Beirut : Darul Ummah, 1990) mengomentari hadits-hadits dalam topik tersebut dengan mengatakan,”Semua hadits di atas dengan jelas menunjukkan haramnya menyiksa dengan cara membakar dengan api. Termasuk juga apa saja yang masuk dalam kategori api, yaitu segala sesuatu yang mempunyai khasiat membakar, misalnya listrik.”

Dengan demikian jelaslah, bahwa haram hukumnya menggunakan alat pembunuh serangga dengan listrik seperti Shinyoku, berdasarkan dalil hadits di atas. Perlu kami tambahkan, bahwa Syaikh Abdurrahman Al-Maliki sebenarnya berbicara masalah teknik menjatuhkan hukuman mati dalam sistem pidana Islam. Jadi, sebenarnya yang beliau maksudkan adalah haram hukumnya menjatuhkan hukuman mati kepada manusia dengan cara dibakar dengan api. Atau dengan suatu sarana yang sifatnya membakar seperti api, misalkan kursi listrik. Tetapi hadits-hadits yang ada sebenarnya bersifat umum, yaitu mencakup manusia dan binatang. Bukan hanya manusia. Kaidah ushul menetapkan :

Al-‘aam yabqaa ‘ala umumihi maa lam yarid dalil at-takhshish (“Lafazh umum tetap dalam keumumannya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya.”)

Berdasarkan penjelasan di atas, keharaman yang terdapat dalam hadits mencakup juga penggunaan listrik untuk membunuh binatang dalam bentuk atau cara lain. Misalnya, memasang kawat beraliran listrik di sekeliling kebun atau kolam, dengan maksud untuk melumpuhkan/membunuh hama yang merugikan, misalnya babi hutan dan sebagainya. Atau menggunakan listrik untuk berburu ikan di sungai dengan menggunakan strum dari aki. Termasuk juga pistol yang dapat melontarkan tenaga listrik dalam voltase tertentu sehingga sasaran (orang) akan kesetrum dan pingsan. Semua ini adalah haram karena termasuk dalam penggunaan listrik yang sifatnya seperti api.
 
Selain menggunakan, memperdagangkan alat-alat seperti Shinyoku dan semisalnya, juga diharamkan oleh syara’. Ini berdasarkan kaidah syariat Islam : Kullu maa hurrimaa ‘ala al-‘ibaad fabay’uhu haraam  (Segala sesuatu yang diharamkan atas hamba, maka memperjualbelikannya adalah haram juga) (Lihat Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, Juz II, hal. 248). Wallahu a’lam. 

Yogyakarta, 27 September 2004

Muhammad Shiddiq Al-Jawi

Minggu, 28 Juni 2020

hukum membeli emas custom

TERNYATA HARAM 😞.. ASTAGHFIRULLOH..beginilah ktika hidup tdk diatur Syariat ISLAM byk ketdak tahuan

*Hukum Memesan Cicin Nikah Dari Emas Secara Custom*

Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi

Tanya :

Ustadz, bagaimana hukumnya kalau ada yang memesan cincin nikah dari emas, bukankah harus disesuaikan dengan bentuk dan ukuran costumer? Bagaimanakah solusinya? (Yuyun, Yogyakarta)

Jawab :

Haram hukumnya memesan cincin nikah dari emas secara custom, yaitu sesuai request dari pembeli. Sebab pada pemesanan tersebut, yang hakikatnya akad jual beli emas, tidak terjadi serah terima (taqâbudh) emas secara segera di majelis akad. Karena penjual dipastikan memerlukan waktu untuk membuat cincin emas sesuai pesanan pembeli sehingga terjadi penundaan penyerahan cincin emas tersebut dari majelis akad.

Padahal, terjadinya serah terima (taqâbudh) di majelis akad merupakan syarat bagi sahnya jual beli emas, yaitu terjadi pembayaran oleh pihak pembeli dan penyerahan emas oleh pihak penjual di majelis akad. Jika salah satunya tidak diserahkan di majelis akad, baik uang pembayarannya maupun fisik emasnya, atau kedua-duanya tidak diserahterimakan di majelis akad, jual beli emas itu tidak sah dan hukumnya haram.

Dalil wajibnya serah terima (taqâbudh) emas dan uang pembayarannya di majelis akad, adalah sabda Rasulullah SAW :

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

"Emas ditukarkan (dijual) dengan emas, perak ditukarkan dengan perak, gandum ditukarkan dengan gandum, jewawut (asy sya’îr) ditukarkan dengan jewawut, kurma ditukarkan dengan kurma, garam ditukarkan dengan garam, harus sama takarannya/timbangannya (mitslan bi-mitslin sawâ`n bi-sawâ`in), dan harus dilakukan secara kontan di majelis akad (yadan biyadin). Maka apabila yang ditukarkan itu berbeda jenis-jenisnya, maka juallah sesuka kamu, asalkan tetap dilakukan secara kontan di majelis akad (yadan biyadin)." (HR Muslim, no. 1587).

Hadis di atas menunjukkan bahwa jual beli emas disyaratkan wajib dilakukan secara yadan biyadin, yaitu terjadi serah terima (taqâbudh) di majelis akad, baik ketika emas itu dijualbelikan dengan sesama emas, ataupun ketika emas dijualbelikan dengan barang-barang ribawi lainnya selain emas (seperti perak). Dan emas yang dimaksudkan dalam hadis ini dan hadis-hadis lain yang semisalnya, adalah emas secara umum, termasuk di dalamnya emas perhiasan (al hullî), tidak terbatas pada emas dalam arti alat tukar (dinâr) saja.

Imam Syaukani mengatakan,”Sabda Rasulullah SAW yang berbunyi al dzahab bi al dzahab [emas ditukarkan/dijual dengan emas] mencakup semua jenis emas, baik itu emas cetakan (madhrûb) maupun emas berukir (manqûsy, engraved), emas yang kualitasnya baik maupun yang kualitasnya buruk, emas yang utuh (shahîh) maupun yang terputus/terpotong (maksûr), emas yang berbentuk perhiasan (hulli) maupun emas yang berbentuk bijih emas (tibr), emas murni maupun emas campuran…” (Imam Syaukani, Nailul Authâr, Beirut : Dâr Ibn Hazm, 2000, hlm. 1059).

Maka dari itu, haram hukumnya memesan cincin nikah dari emas secara custom, yaitu sesuai request (permintaan) dari pihak pembeli, karena dalam akad jual belinya tidak terjadi serah terima (taqâbudh) emas secara kontan di majelis akad.

Pemesanan emas secara custom ini menurut para fuqoha Hanafiyah disebut jual beli istishnâ’, yaitu jual beli pesan yang mensyaratkan pembuatan oleh penjual; atau disebut jual beli salam, yaitu jual beli pesan menurut jumhur fuqoha (Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah) yang menganggap jual beli istishnâ’ sama saja dengan jual beli salam (pesan). Namun apakah digolongkan jual beli istishnâ atau jual beli salam (pesan), jika yang dijual belikan emas, hukumnya haram menurut empat mazhab tersebut, karena tidak terjadi taqâbudh emas di majelis akad.

Solusinya, pembeli terlebih dulu membeli bahan mentah emas dari penjual secara kontan di majelis akad. Setelah itu, pembeli menyerahkan bahan mentah emas kepada penjual dengan akad ijârah, untuk dibuatkan cincin nikah sesuai pesanan pembeli. Wallâhu a’lam.

Rabu, 24 Juni 2020

perbedaan hudud, jinayat dll. hukum mencolok mata

/ Harga Sebuah Mata dalam Syariat Islam /

Oleh: Wardah Abeedah

#Fikih

Di sebagian kalangan thullabul ilmi, nama Qadli Syuraih tentunya sudah tak asing. Salah satu tabi’in yang menjadi qadli (hakim) di masa kekhalifahan Amiirul mukminin Umar bin Khaththab hingga khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu ini, terkenal dengan kisahnya yang memenangkan lelaki Yahudi di atas khalifah Ali dalam kasus persengketaan perisai, atau dalam riwayat lain, persengketaan baju besi. Nama Qadli Syuraih mewangi hingga kini. Namanya selalu disebut setiap ulama mencontohkan keadilan hukum dalam sistem Islam, atau dalam catatan emas sejarah khilafah Islam. Sang Qadli adil ini bahkan pernah memenjarakan anaknya sendiri yang menjamin seorang fakir yang berhutang namun tak sanggup membayar hutang tersebut.

Figur Qadli Syuraih nampaknya langka di negeri berbentuk republik sekuler. Beberapa hari yang lalu, tagar #GaSengaja heboh di jagat twitter. Tagar ini menjadi trending setelah diputuskannya vonis 1 tahun penjara pada pelaku penyiraman air keras pada Novel Baswedan. Banyak tokoh nasional mengecam vonis tersebut. Mereka menyebut hal ini bukti menjadi bukti bobroknya hukum dan mahalnya keadilan di negeri yang sudah 70 tahun lebih menerapkan demokrasi ini.

Di antara yang meringankan hukuman pelaku adalah pengakuan tak sengaja, padahal begitu banyak fakta yang bisa dipergunakan untuk mengingkarinya. Pengabdian pelaku selama 10 tahun di institusi kepolisian juga turut meringankan hukuman tersebut. Meski pelaku orang yang faham hukum, korban adalah penyidik dari institusi yang melawan korupsi -sebuah kriminalitas besar yang masih menjadi PR besar di Indonesia-, apalagi akibat perbuatan pelaku adalah cacatnya wajah dan mata, namun hal ini sama sekali tak menjadi pertimbangan hakim untuk memutuskan hukuman yang membuat jera.

Ya, nampaknya keadilan memang begitu langka di negara manapun demokrasi tegak. Baru saja heboh kasus kematian George Floyd oleh polisi yang memantik protes besar ketidakadilan dan perilaku rasis polisi AS selama ini, di Indonesia kembali ketidakadilan hukum menghebohkan seantero negeri.

===

Islam Mewujudkan Keadilan

Berbeda halnya dengan penetapan hukum dan sistem peradilan dalam demokrasi. Hukum Islam digali dari Al-Qur'an, as-Sunnah dan apa yang ditunjukkan keduanya dari ijma’ dan qiyas. Sumbernya adalah wahyu, metode penggaliannya juga tasyri’i melalui ijtihad syar’i.

Dalam hal uqubat atau sistem sanksi, sanksi dibagi menjadi empat macam; yaitu hudud, jinayat, ta’zir, dan mukhalafat. Hudud adalah sanksi – sanksi atas kemaksiatan yang telah ditetapkan kadarnya (dan menjadi) hak Allah. Ta’zir adalah sanksi bagi kemaksiatan yang di dalamnya tidak ada had dan kafarat. Adapun mukhalafat adalah uqubat yang dijatuhkan oleh penguasa kepada orang yang menentang perintah penguasa (baik khalifah atau lainnya seperti wali, muawwin/wazir, dll) yang memang berwenang memberi perintah. Sedangkan jinayat adalah pelanggaran terhadap badan yang didalamnya mewajibkan qishash atau harta (diyat). Juga bermakna sanksi-sanksi yang dijatuhkan terhadap tindak penganiayaan.

Pencideraan terhadap mata, sebagaimana kasus Novel Baswedan termasuk dalam jinayat yang mewajibkan pembayaran diyat dengan kadar sesuai ketentuan syariah bagi korban. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

Dari Abu Bakar bin Muhammad bin “Amril bin Hazm dan’ bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah ﷺ telah menulis surat kepada penduduk Yaman. Di dalam surat tersebut di tulis, “Barangsiapa terbukti membunuh seorang wanita mukmin, maka ia dikenai qawad (qishash), kecuali dimaafkan oleh wali pihak yang terbunuh. Diyat dalam jiwa 100 ekor unta, Pada hidung yang terpotong dikenakan diyat, pada lidah ada diyat, pada dua bibir ada diyat, pada dua buah pelir dikenakan diyat, pada penis dikenai diyat, pada tulang punggung dikenakan diyat, pada pada dua biji mata ada diyat pada satu kaki 1/2 diyat, pada ma’mumah ( luka yang sampai selaput batok kepala) 1/3 diyat, pada jaifah (luka yang dalam) 1/3 diyat, pada munaqqilah (luka sampai ke tulang dan mematahkannya) 15 ekor unta, pada setiap jari kaki dan tangan 10 ekor unta, pada gigi 5 ekor unta, pada muwadldlihah (luka yang sampai ke tulang hingga kelihatan) 5 ekor unta, dan seorang Iaki-laki harus dibunuh karena membunuh seorang perempuan, dan bagi pemilik emas, 1000 dinar. (HR an-Nasa’iy)

Atas dasar hadis di atas, sanksi atas penyerangan anggota badan adalah diyat, atau irsiy, bukan yang lain. Begitu pula sanksi bagi pencideraan organ mata. 

===

Dalam hadis lain yang diriwayatkan Imam Malik dalm Muwattha’nya, Rasulullah ﷺ juga bersabda,

وفي العين الواحدة خمسون من الإبل

“Pada satu biji mata, diyatnya 50 ekor unta”

Jika hilangnya penglihatan telah terbukti, dan ahli mata menyatakan penglihatannya tidak ada harapan pulih seperti semula, maka pelaku wajib dikenai separuh diyat, yakni membayar 50 unta bagi korban.

Inilah salah satu hikmah syariah terkait uqubat dalam Islam. Penerapan syariah bertujuan untuk menjaga nyawa hifdzun nafs, termasuk menjaga organ tubuh manusia. Syariah mengatur sempurna penjagaan dan pemeliharaan nyawa, juga kesehatan tubuh. Mengharamkan puasa wishal dan hal lain yang dapat memudaratkan tubuh. Begitu pula mengharamkan mendatangkan mudarat bagi tubuh orang lain.

===

Selain itu, sistem peradilan dalam Islam diatur sempurna hingga terwujud keadilan sebagaimana tercatat dalam tinta emas sejarah, ketika khilafah rasyidah yang pertama tegak berabad lalu. Sistem itu tegak tanpa memandang muslim atau kafir dzimmiy yang menjadi warga negara khilafah. Pun tanpa melihat ras, suku, dan lainnya. Bahkan masyhur bagaimana Kanjeng Nabiﷺ berikrar, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, maka pasti aku potong tangannya. Sabda ini menjadi sebuah prinsip bagi pemimpin dan qadli berikutnya dalam menegakkan keadilan ketika menerapkan sistem peradilan/sanksi dalam Islam. Allahu a’lam.

===
Sumber:
https://suaramubalighah.com/2020/06/16/harga-sebuah-mata-dalam-islam/

—————————————

Rabu, 22 April 2020

Mc kajol

[18/4 20.46] Maryam Paras: 🍁Komus-- Ikuti Diskusi Online WAG

Narasumber :
*Ustadzah Iis S. PdI* *( Praktisi Anak )*

Tema :
*Home Learning, bikin pusing ?*

Hari : Ahad, 19 April 2020
Waktu : 10.00 - 11.30 WIB

_Don't miss it!  😎
[18/4 20.47] Maryam Paras: 🍂Bismillâhirrahmânirrahîm🍂, sesaat lagi insyaallah akan hadir program *Diskusi Online Grup WhatsApp Komus*

semangat menyimak semoga bermanfaat 😊
[18/4 20.50] Maryam Paras: 🎤 *Host*

Assalamu'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh

الحمد لله ربّ العالمين، حمدا شاكرين حمدا ناعمين حمدا يوافي نعامه و يكافي مزيده يا ربّنا لك الحمد و لك الشكر كما ينبغي لجلال وجهك الكريم. اللهم صلّي و سلّم و بارك على سيّدنا محمّد و على آله و اصحابه و من تبعه بإحسان إلى يوم الدين

Bunda sholihah, yang insyaallah dirahmati Allah

MasyaAllah hadir perdana program diskusi online grup Komus.

Semoga antunna semua dalam keadaan sehat serta dalam lindungan Allah subhanahu wa ta'ala. Aamiin Allahumma Aamiin

Mari kita mulai forum diskusi online kali ini, dengan mengharap ridha Allah kita awali dengan membaca basmallah bersama-sama

_Bismillâhirrahmânirrahîm_
[18/4 22.56] Maryam Paras: 🎤 *Host*

Agar diskusi kita berjalan tertib dan lancar, ada peraturan diskusi yang harus ditaati ya☺

📒 Peraturan diskusi

🖊Mohon Maaf bunda, selama pemaparan materi, tidak diperkenankan komentar/bertanya🙏

🖊Bunda dipersilahkan oleh host bertanya pada sesi tanya-jawab

🖊Bagi bunda yang ingin berkomentar, dimohon izin kepada host terlebih dahulu

🛍 Terimakasih☺
[18/4 22.59] Maryam Paras: 🎤 *Host*

Baiklah bunda, ada pepatah zaman now mengatakan "tak kenal maka taaruf (kenalan)" bunda 😅

Berikut ini biodata pemateri :

🧕Nama : Ibu Iis S.Pd.I
🏡Domisili: Cirebon
Aktivitas: Pendidik
Pendidikan: S1
[18/4 22.59] Maryam Paras: 🎤 *Host*

Baik, bunda sholihah
Sebelum kita menyimak isi materi dan berdiskusi, mari kita saksikan tayangan video berikut ini👇
[18/4 23.03] Maryam Paras: 🎤 *Host*

Sudah dilihat bund videonya?

Wah.. wah, dampak corona dirasakan juga nih oleh para siswa dan orang tua yaitu beban tugas-tugas belajar🤔

Apakah bunda dan ananda merasakan hal sama?

Bagaimana seharusnya bunda menyikapi hal ini?
Yuk simak pemaparan materi dari narasumber kita.

Kepada ibu Iis S.Pd.I
Kami persilahkan🙏
[18/4 23.05] Maryam Paras: 🎤 *Host

Alhamdulillah, pemateri telah menyampaikan ulasannya terkait tema hari ini.

Mangga, bagi bunda sholihah yang ingin bertanya dipersilahkan

Dengan format👇
[18/4 23.05] Maryam Paras: ┏﷽🥏💞📑━━━━━━━━━━┓

۝ Tanya Jawab
*Kajian KOMUS*

_*"HOME LEARNING, kok bikin pusing??"*_😌

_Jangan malu-malu bertanya ya bund..
_malu bertanya sesat dijalan._
🤗👇🏻silahkan diisi yuk bunda 👇🏻🤗

NAMA :

ALAMAT :

PERTANYAAN :

┗━━━━━━━━━━━━📑💞🥏┛
[18/4 23.07] Maryam Paras: 🎤 *Host*

Alhamdulillah, Pertanyaan menarik ya bunda,

.....

Mohon, penjelasannya ustadzah🙏
[18/4 23.08] Maryam Paras: 🎤 *Host*

Jawaban ustadzah mudah-mudahan bisa dipahami ya bun.

Adakah bunda, yang ingin berkomentar?
[18/4 23.10] Maryam Paras: 🎤 *Host*

Jika tidak ada lagi, silahkan penanya selanjutnya🤗
[18/4 23.10] Maryam Paras: 🎤 *Host*

MasyaAllah, pertanyaan yang bagus-bagus ya bunda dan bahasan diskusi ini sangat inspiratif dan menambah wawasan.

Namun, tidak terasa waktu diskusi kita akan selesai. Dipersilahkan Ustazah memberikan *pesan*  dari pembahasan topik kita pada hari ini?
[18/4 23.20] Maryam Paras: 🎤 *Host*

Maa syaallah, pesan yang sangat bermanfaat bagi kita semua.

_Alhamdulillah,_ bunda sholihah yang dirahmati Allah rangkaian acara diskusi kita telah selesai 😊

Semoga kita bisa tercerahkan dari penjelasan diskusi kali ini, ilmunya bisa menjadi bekal untuk kita agar kita diberikan keistiqamahan di jalan Islam. _Aamiin Allahumma Aamiin_

Terhatur _jazakillahu khairan katsiron_ kepada *Ustazah Iis* yang sudah berkenan menyediakan waktu dan membagi ilmunya untuk kita semua dan _jazakunallahu khairan katsiron_ atas partisipasi semuanya

Baik, mari kita tutup forum ini dengan membaca istighfar tiga kali dan doa penutup majelis

_Astaghfirullah_
_Astaghfirullah_
_Astaghfirullah_

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Kami selaku host, mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan. Sampai jumpa di program Diskusi Online atau kajian Komus  selanjutnya, _insyaallah_ 😊

*_Wassalamu'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh_*